Kemaren-kemaren, di RCTI diputer pilem yang (menurut saya) bagus banget.
Judulnya ‘I, Robot’, dibintangi sama Will Smith.
Sebenernya seh saya udah pernah liad di visidi, tapi ya gimana lagi. Namanya juga tipi. Mana ada pilem yang bener-bener baru. Lagian tu pilem juga bagus banget. Gak ada ruginya nonton lagi. Kalo dipikir-pikir juga, stasiun tipi di rumah terbatas. Jarang-jarang bisa nemuin pilem Hollywood diputer.
Anyway, lepas dari masalah itu, permasalahan yang menurut saya noticeable dari pilem ini adalah pandangannya tentang mesin, robot, dan AI (Artificial Intelligence atau Kecedasan Buatan). Dalam pilem tersebut, ada seorang profesor yang mempertanyakan tentang keberadaan ‘jiwa’ dalam sebuah mesin.
Jiwa.
Yeah, dammit. You wasn’t misreaded it. It’s a soul.
It’s a damn soul.
Well, saya udah lupa sama kata-kata si profesor mengenai permasalahan ‘jiwa’ tersebut, tapi saya bakalan coba tulis lagi sebatas yang saya inget. Here it goes:
Setiap mesin tidak pernah luput dari sebuah ‘kesalahan’.
Sekumpulan kode acak,
yang bekerja tanpa sepengetahuan manusia pembuatnya.
Membuat mesin tersebut berkembang,
dan bertindak atas keputusannya sendiri.
Mengapa jika robot berada di tempat gelap,
ia akan berusaha mencari cahaya?
Mengapa jika robot dikumpulkan di suatu tempat,
mereka berkumpul dengan sesamanya?
Lalu apa yang dapat menjelaskan anomali tersebut?
Sekumpulan kode acak?
Atau mungkin ada hal yang lain?
Mungkinkah terdapat ‘jiwa’ dalam sebuah mesin?
Geez, ‘jiwa’ dalam sebuah mesin menurut saya adalah sebuah ide yang freaky abis. Lagipula di pilem itu yang dijadiin contoh adalah robot-robot khayalan. Robot yang beda jauh sama Honda ASIMO atau Sony QRIO. Robot yang bener-bener super canggih di luar batas teknologi manusia sekarang. Robot yang cuman ada di pilem itu aja.
Tapi lama-lama sikap meremehkan saya jadi goyah (atau emang sayanya aja yang jadi tambah bego).
Dulu sekali, waktu hape saya masih Sony Ericsson J300 yang murah meriah (dan saya dapetnya gratis pula, hasil menang lomba), saya udah hobi banget nyetel lagu waktu mau tidur. Meski lagu-lagunya kudu dikompres biar bisa masuk ke dalam memori internal yang cuman 12 MB, saya tetep hepi.
Dan goyahnya saya mungkin dimulai dari sini. Dimulai dari waktu saya asik baca-baca buku sambil dengerin itu hape.
Waktu itu, gak tau kenapa, saya tiba-tiba kepikiran sebagian bait lagu yang kebetulan ada di playlist. Dan beneran, lagu selanjutnya yang diputer adalah lagu yang saya pikirin tersebut.
Awalnya sih saya gak gitu concern.
Tapi kejadian kayak gitu terus berulang sampe sekarang. Sampe hape saya yang W300, yang notabene satu playlist puluhan lagu, yang mestinya semakin susah untuk nebak lagu apa yang selanjutnya diputer.
Gak tau kenapa, padahal saya gak mikir apa apa, tiba-tiba aja inget bagian dari lagu tertentu. Dan lagu selanjutnya yang diputer beneran lagu yang saya tiba-tiba inget tersebut.
Sixth sense? Gak mungkin. Kalo beneran sixth sense, mestinya bisa nebak yang laen juga, dong. Tapi yang saya bisa tebak (itupun secara kebetulan) cuma masalah lagu. Yang laennya? Paling-paling cuman jalan cerita sinetron Indonesia: ‘Yak, yak, habis ini pasti jatoh…’ Beneran jatoh. ‘Yak, yak, habis ini pasti nangis…’ Beneran nangis. ‘Yak, yak, habis ini ketabrak…’ Beneran ketabrak. ‘Yak, yak, slow motion gini, pasti mau habis…’ Dan beneran, BERSAMBUNG. Bakat sutradara kah?
Anyway, akhirnya saya mulai berpikir: Apa bener ya? Mungkinkah di dalam suatu mesin terdapat sebuah ‘jiwa’ yang akhirnya membuat mesin tersebut dapat berinteraksi dengan manusia dengan cara yang di luar batas imajinasi? Sesederhana apapun suatu tindakan acak, apabila sudah mencapai tahap di mana tindakan tersebut bekerja sesuai dengan pola tertentu yang tidak direncanakan oleh pembuatnya, tentu aja bisa bikin bingung. Yaiyalah. Coba bayangin, kalo kamu ngerakit tamiya, terus tiba-tiba ntu tamiya bisa bertindak ajaib kayak di pilem kartun (disemangati tiba-tiba tambah cepet, ato menggok-menggok sendiri). Aneh, kan? Tapi di sisi lain, rasanya keren, kan?
Well, who knows?
Menurut kamu, gimana?
yuri-cHan berkata,
Juli 15, 2008 @ 12:47 am
glodagh,,, 0_____o
JIWA!!!
kek roh gituh??? wadu,, emang bisa yak,,
ndak tau ah,, aku ndak penah ngalamin se,,
ali...ini BaGuS berkata,
Juli 16, 2008 @ 5:14 am
Q jg dah pernah lht tuh film,
emang bagus filmnya apalagi yg meranin Will Smith
buat crita yg ini, semua tuh khayalan ttg film robot
jd jgn sampe dimasukkan ke dunia nyata donk!!!
bagus blogmu Li apalagi crita yg IRC, Q ketwa sampe g kuat nahan kentut…
apalagi ada si ateng n alfa, ckckck…
Klo bs km buat crita ttg kjadian antara si Ateng n Bos
kan banyak pengalaman mnarik n lucu
apalagi Ateng sering ketahuan klo ngiloki Bos
Okey,,,!!!
eryngga berkata,
Juli 21, 2008 @ 6:04 am
Jiwa dalam Mesin ???
Ini sih Animisme MODERN…
Ini Aq Kasih refrensi tentang Jiwa Dalam Benda Mati (Macak Keren) :
Animisme
Mereka percaya bahwa roh itu bukan hanya menempati makhluk hidup
tetapi juga benda-benda mati. Sehingga ruh itu terdapat dalam batu-
batuan, pohon-pohon besar, tombak, kepala manusia yang dimumi, korwar,
bukit-bukit, dan sebagainya.
Ada ruh alam dan ada roh dari lepasan seorang pahlawan, dukun atau
kepala suku yang gagah berani.
Karena adanya kepercayaan pada roh-roh dan hantu-hantu, timbullah
pemujaan terhadap tempat dan benda yang dianggap dihuni roh atau hantu
itu. Ada yang dipuja agar membalas kebaikan. Ada pula yang dipuja agar
ruh atau hantu itu tidak mengganggu.
Agar terhindar dari kemarahan dari hantu dan roh-roh itu, timbulah
berbagai macam pantang-tabu. Segala upaya ritus itu dipimpin seorang
pendeta suku atau dukun. Pendeta suku atau dukun dianggap sakti karena
mereka dianggap dapat langsung berhubungandengan roh nenek moyang.
Adakalanya mereka membujuk roh-roh alam dengan mengadakan penguburan
hewan atau manusia yang dikubur hidup-hidup atau diambil kepalanya
dalam pengayauan atau dilemparkan ke dalam kepundan gunung manakala
sebuah gunung meletus. Mereka beranggapan bahwa jika ada bencana alam
berarti roh-roh alam sedang marah.
Sisa-sisa animisme masa kini:
Bendera kerajaan, tombak, keris dan gamelan dianggap mempunyai roh
sehingga dipuja dan dinamakan datuk, kiai, tuan dan sebagainya. Wayang
pun dianggap berjiwa sehingga diberi berbagai macam sajian.